Segera Bangun Tower Seluler di Winangun, Pengembang Jamin Keselamatan Warga

Salah satu teknisi tower saat melakukan service tower XL Axiata di Kelurahan Tanjung Batu, Kecamatan Wanea, Kota Manado. (Gambar ilustrasi)

MANADO – Kelurahan Winangun Satu menjadi salah satu lokasi pilihan yang strategis bagi pengembang untuk membangun tower Base Transceiver Station (BTS) atau yang lebih akrab disebut tower seluler.

Menurut direktur operasional bagian pengembangan XL Axiata, Toro, pemilihan daerah di Winangun Satu karena permintaan dari operator berdasarkan purchase order (PO).

“Kenapa kami tetap ingin membangun tower di lokasi tersebut (lapangan jambore) karena spotnya sudah ditentukan operator berdasarkan kajian, serta kami sudah mendapatkan izin dari pemerintah,” kata Dirops Toro, Jumat (17/10/2021).

Meski begitu, Toro mengaku sampai saat ini masih mendapatkan sedikit masalah untuk pelaksanaan pembangunan tower oleh warga setempat meskipun sudah mendapatkan izin dari Wali Kota dan Wakil Wali Kota Manado.

“Sampai saat ini kami terus melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat untuk pembangunan tower ini. Terutama terkait masalah keamanan dan kesehatan warga di sekitaran lokasi berdirinya tower. Banyak warga yang mengeluhkan masalah radiasi. Padahal, tower seluler tingkat radiasinya jauh lebih rendah daripada tower televisi, bahkan sangat jauh dibawah ambang normal. Jadi selama pengalaman kami membangun ribuan tower di seluruh Indonesia, belum ada masalah dengan hal tersebut,” ujar Toro.

Selain itu, Toro juga menjelaskan terkait masalah sambaran petir dan tower roboh yang kerap dikeluhkan oleh warga.

“Menurut warga sekitar, lapangan yang rencananya akan dijadikan tempat pembangunan tower adalah jalur sambaran petir karena sudah pernah ada korban. Tapi yang sebenarnya justru tower menyelamatkan warga yang ada di sekitar lapangan kalau ada sambaran petir, karena tower menjadi sasaran utama dengan posisinya yang lebih tinggi. Namun hal tersebut jarang terjadi karena tower akan dipasangkan anti petir,” ujar Dirops.

Untuk tower roboh, lanjut Toro, belum pernah ada kasus tower roboh di keadaan normal. Karena menurut dia, rancangan pembangunan tower harus mengikuti standar dan aturan.

“Kemungkinan roboh dalam keadaaan normal sangat kecil. Sudah ada pembuktian setiap ada bencana alam seperti tsunami yang tidak tumbang adalah tower.
Seandainya jika tumbang, ada asuransi. Tapi kemungkinannya sangat kecil untuk tumbang dan kami berani menjaminnya,” katanya.

Selain pembangunan tower seluler, warga Winangun Satu juga mendapatkan CSR berupa renovasi lapangan sepak bola, pengadaan fasilitas toilet dan ruang ganti, pengadaan lampu penerangan, pembangunan tribun untuk lapangan sepak bola, dan yang terbaru pengembang juga memberikan fasilitas mobil ambulance untuk keperluan warga Winangun Satu. (Auddy Manoppo)

Author: redaksi Indosulut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *