Jurani Rurubua: Saya Perjuangkan Suara Hati dari Rohaniawan Bukan Pribadi

Jurani Rurubua S.ST

MANADO – Anggota DPRD Manado Jurani Rurubua memberikan tanggapan terkait aspirasinya mengenai pemberian insentif kepada rohaniawan yang mendapat kritik dari beberapa oknum yang diantaranya adalah staff khusus dari Wali Kota Manado Andrei Angouw.

Menurut Jurani Rurubua, dia memperjuangkan aspirasi yang disampaikan oleh sebagian besar rohaniawan di Kota Manado terkait pembagian insentif kepada rohaniawan, yang mana aspirasi tersebut adalah permintaan warga dan bukan kepentingan pribadi atau asal kritik saja.

“Bila Saya mengangkat ke permukaan terkait kebijakan ini, karena banyak sebagian besar rohaniawan tidak setuju dan merasa diperlakukan secara diskriminatif,” kata Jurani Rurubua melakui obrolan WhatsApp, Rabu (19/1/2021).

Sementara itu, Jurani mengatakan jika aspirasi tersebut mendapatkan respon dari berbagai sumber termasuk dari staff khusus walikota, dirinya merasa bersyukur akhirnya para staf khusus mulai berbondong-bondong memberi penjelasan kepada media terkait kebijakan strategis walikota tersebut.

“Artinya, mereka bekerja pasca dilantik. Saya pun demikian, bekerja sebagai wakil rakyat, yang menyuarakan pikiran rakyat. Bukan asal bicara. Bila pun Saya sangat setuju program Walikota, maka bukan tugas Saya memberi klarifikasi ke publik. Karena Saya bukan Humas Pemerintah,” ujar Ketua PSI Kota Manado ini.

Lebih lanjut, Jurani mengatakan tidak perlu berlebihan menilai kritik Saya. Cukup beri sosialisasi lalu sampaikan maksud dan tujuan.

“Bila semua program pemerintah tidak pernah dikritik, bagaimana kita mengetahui bahwa semua sesuai dengan kebutuhan rakyat. Staf khusus membaca kebijakan Walikota dalam bentuk strategis, namun Saya menilainya secara politis,” ujar Jurani.

Selain itu, Jurani memberikan3 alasan mengapa dirnya berjuang untuk menyuarakan insentif kepada para rohaniawan. Seperti;

 

1. Apapun bentuk pemberian uang kepada Rohaniawan yang diberikan pemerintah adalah uang rakyat. Sehingga sebagai perwakilan rakyat, Saya berkapasitas untuk melakukan kritik, saran.

2. Tidak ada yang salah dengan kebijakan pemberian insentif kepada pemuka agama, namun distribusi dengan nilai berbeda hanya karena jumlah jemaat dan besarnya rumah ibadah tidak relevan.

3. Tanpa diberikan intensif sekalipun, rohaniawan memang sudah bertugas sebagai pembina umat, pembimbing ke arah yang baik. Jadi, bila pun harus diberikan apresiasi, maka sebaiknya di sama ratakan, gereja atau masjid dan rumah ibadah lainnya punya nominal yang sama.

(Auddy Manoppo)

Author: redaksi Indosulut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *