Wali Kota Bitung Hengky Homandar dan Dirut Perumda Pasar Ramlan Mangkialo saat meninjau sejumlah pasar. Melihat keluhan warga sekaligus memantau harga bahan pokok menjelang Nataru.
Pagi di salah satu pasar tradisional Kota Bitung terasa sedikit berbeda. Aktivitas jual beli tetap berlangsung seperti biasa, namun di balik kesibukan para pedagang, terselip kabar yang memberi harapan. Mulai Januari hingga Juni 2026, biaya sewa lapak di seluruh pasar Kota Bitung kembali diturunkan, mengikuti kebijakan Wali Kota Bitung Hengky Honandar.
Kebijakan tersebut akan dijalankan oleh Perumda Pasar Bitung sebagai bentuk keberpihakan pemerintah kepada pedagang kecil yang selama ini menjadi penggerak utama ekonomi rakyat.
Direktur Utama Perumda Pasar Bitung, Ramlan Mangkialo, menjelaskan bahwa sebelum kebijakan terbaru ini diberlakukan, pihaknya telah lebih dahulu menurunkan biaya sewa lapak hingga 50 persen sejak dirinya menjabat pada Juni lalu. Dimana untuk kios dari Rp250.000 menjadi Rp125.000 dan lapak dari Rp150.000 menjadi Rp50.000
“Sejak kami dipercayakan mengelola Perumda Pasar, kami sudah menurunkan biaya sewa lapak sekitar 50 persen lebih. Tapi kami akan melakukan penyesuaian sesuai arahan serta SK Wali Kota, mulai Januari sampai Juni tahun depan, dimana biaya sewa akan kembali diturunkan,” ujar Ramlan.
Disejumlah pasar yang ada di Kota Bitung, ada pedagang yang menyewa kepada pihak swasta. Dimana pedagang menjual di depan rumah/ruko. Dari data yang kami temukan, biaya sewa harian berada pada kisaran Rp15 ribu hingga Rp20 ribu, sementara sewa bulanan lapak berkisar Rp600 ribu hingga Rp700 ribu, tergantung lokasi dan ukuran. Artinya harga swasta jauh lebih mahal dibandingkan yang ditetapkan oleh Perumda Pasar.
Namun demikian, bagi para pedagang, kebijakan ini menjadi angin segar di tengah naik-turunnya kondisi ekonomi. Ibu Hasnah, pedagang sayur di pasar Girian, mengaku sangat terbantu dengan penurunan sewa tersebut.
“Kalau sewa turun, kami bisa sedikit bernapas. Uang yang biasanya habis untuk bayar lapak bisa dipakai tambah barang dagangan atau kebutuhan rumah soalnya yang membeli pun berkurang,” tuturnya sambil melayani pembeli.
Hal senada disampaikan Pak Syarif, pedagang ikan. Menurutnya, keringanan biaya sewa memberi rasa tenang bagi pedagang kecil.
“Kadang jualan ramai, kadang sepi. Kalau sewa diringankan, beban kami jauh berkurang. Kami berterima kasih karena pemerintah mau dengar keluhan pedagang,” katanya.
Selain penyesuaian tarif, Perumda Pasar Bitung juga menyiapkan revitalisasi sarana dan prasarana pasar secara bertahap. Pembenahan fasilitas dilakukan agar pasar tetap nyaman, bersih, dan layak bagi pedagang maupun pembeli.
“Pasar bukan hanya tempat jual beli, tapi tempat orang menggantungkan hidup. Karena itu, selain soal sewa, kami juga fokus memperbaiki fasilitas pasar secara bertahap,” tambah Ramlan.
Kebijakan penurunan sewa lapak ini sejalan dengan komitmen Wali Kota Bitung Hengky Honandar dalam memperkuat ekonomi kerakyatan dan menjaga keberlangsungan usaha para pedagang kecil.
Bagi para pedagang pasar, kebijakan ini bukan sekadar angka di atas kertas, tetapi bentuk perhatian yang nyata. Setidaknya, hingga Juni mendatang, mereka bisa berdagang dengan beban yang lebih ringan dan harapan yang tetap terjaga.(hds)