SIAU- Hujan yang turun beberapa hari terakhir meninggalkan bekas panjang di Kelurahan Bahu, Kecamatan Siau Timur. Bebatuan besar dari lereng Gunung Tamata masih berserakan di badan jalan, sebagian menumpuk di tepi permukiman. Bagi warga, longsor itu bukan sekadar tumpukan batu, melainkan pengingat akan rapuhnya rasa aman di tempat yang selama ini mereka sebut rumah.
Di tengah kondisi itu, Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus Komaling datang meninjau langsung lokasi longsor, Selasa (6/1/2026). Ia berjalan menyusuri ruas jalan yang tertutup material, memandangi bongkahan batu yang menghentikan akses dan aktivitas warga. Tak jauh dari situ, suara alat berat ekskavator memecah keheningan, membersihkan satu demi satu sisa longsoran.
Warga Bahu berdiri di kejauhan, sebagian mengamati, sebagian lain memilih berteduh. Kecemasan akan longsor susulan masih terasa. Gunung Tamata menjulang tak jauh dari permukiman, seolah mengingatkan bahwa bencana belum sepenuhnya pergi.
Melihat kondisi lapangan, Gubernur meminta Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Sulawesi Utara melakukan supervisi teknis secara menyeluruh. Penanganan darurat, menurutnya, harus berjalan seiring dengan perencanaan jangka panjang agar kejadian serupa tidak terus berulang dan membayangi kehidupan warga.
Ia juga menekankan pentingnya memberikan pendampingan kepada pemerintah kabupaten dalam menentukan langkah mitigasi, termasuk penataan wilayah rawan dan pengamanan jalur transportasi yang menjadi urat nadi aktivitas masyarakat Siau.
Bagi warga Kelurahan Bahu, kehadiran pemerintah di tengah situasi sulit memberi makna tersendiri. Di antara suara mesin dan tanah basah, ada harapan bahwa mereka tidak menghadapi bencana ini sendirian. Penanganan yang cepat memberi keyakinan bahwa keselamatan warga menjadi perhatian utama.
Di Siau, longsor meninggalkan luka dan rasa takut. Namun hari itu, di bawah bayang Gunung Tamata, kehadiran negara menjadi penguat bahwa setelah bencana, masih ada tangan yang bekerja dan perhatian yang menyertai langkah pemulihan.(hds)