Sore itu, langit Tanah Totabuan pelan-pelan berubah warna. Di halaman pesantren di wilayah Bolaang Mongondow, para santri berbaris rapi, sementara warga berdatangan dengan wajah penuh harap. Di tengah suasana Ramadan yang tenang, rombongan Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus tiba untuk memulai rangkaian Safari Ramadan di kawasan Bolaang Mongondow Raya.
Kunjungan itu bukan sekadar agenda seremonial. Dari pesantren hingga masjid, dari ruang dialog hingga meja buka puasa bersama, gubernur memilih mendekat kepada masyarakat. Ia berbincang dengan tokoh agama, mendengar cerita petani, dan menyapa warga yang datang hanya untuk berjabat tangan. Di wilayah yang dikenal sebagai lumbung pangan Sulawesi Utara itu, percakapan sering kembali pada satu hal: bagaimana memastikan daerah ini terus tumbuh dan memberi kesejahteraan bagi masyarakatnya.
Perjalanan kemudian berlanjut ke Kotamobagu, pusat aktivitas masyarakat Bolaang Mongondow Raya. Menjelang waktu berbuka, halaman masjid dipenuhi warga yang datang dari berbagai penjuru. Di sana, suasana terasa sederhana namun hangat—orang-orang duduk berdampingan, menunggu azan magrib sambil mendengar pesan-pesan tentang kebersamaan, stabilitas ekonomi, dan pentingnya menjaga harmoni sosial di tengah keberagaman.

Safari Ramadan itu juga membawa perhatian pada kebutuhan masyarakat sehari-hari. Di Bolaang Mongondow Timur, gubernur meninjau program pasar murah yang digelar pemerintah untuk menjaga harga bahan pokok tetap terjangkau. Ia juga menyampaikan rencana pemerintah membuka ruang pengelolaan wilayah pertambangan rakyat agar manfaat sumber daya alam dapat dirasakan langsung oleh masyarakat setempat.
Di sela perjalanan, perhatian juga diarahkan pada pelayanan publik. Dari dialog dengan pemerintah daerah hingga peninjauan fasilitas kesehatan, pesan yang disampaikan tetap sama: pembangunan tidak boleh berhenti pada rencana, tetapi harus terasa dalam kehidupan sehari-hari masyarakat.
Pada akhirnya, Safari Ramadan di Tanah Totabuan bukan hanya perjalanan seorang kepala daerah dari satu tempat ke tempat lain. Ia menjadi ruang perjumpaan—antara pemerintah dan rakyat, antara harapan dan tanggung jawab.
Dan di bulan yang penuh keberkahan ini, perjumpaan itu terasa lebih bermakna: ketika pemimpin datang bukan hanya untuk berbicara, tetapi juga untuk mendengar.(*)