BITUNG – Wali Kota Bitung, Hengky Honandar, bersama Wakil Wali Kota, Randito Maringka, secara resmi membuka Prosesi Goan Siau atau Cap Go Meh dengan mengibarkan bendera start, menandai dimulainya pawai budaya yang berlangsung meriah di pusat kota.

Prosesi yang dipusatkan di Klenteng Seng Bo Kiong itu diawali dengan doa lintas agama yang melibatkan tokoh-tokoh keagamaan setempat. Momentum tersebut menjadi simbol kuat kerukunan antarumat beragama di Kota Bitung, sekaligus wajah toleransi yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.
Dalam sambutannya, Hengky menegaskan bahwa toleransi adalah modal utama membangun daerah. “Toleransi antar umat beragama harus selalu kita jaga. Ini modal kita membangun kota tercinta,” ujarnya di hadapan masyarakat dan pengunjung yang memadati lokasi acara.
Lebih dari sekadar perayaan budaya, Pemerintah Kota Bitung memproyeksikan Cap Go Meh sebagai ikon wisata tahunan yang mampu menarik wisatawan mancanegara (wisman). Keunikan prosesi budaya Tionghoa yang berpadu dengan kearifan lokal dinilai memiliki daya jual kuat dalam kalender pariwisata Sulawesi Utara.
“Dengan banyaknya wisatawan domestik dan mancanegara, pendapatan UMKM akan meningkat dan ekonomi warga lebih bergairah,” harap Hengky. Ia optimistis perayaan ini dapat memperluas eksposur Bitung sebagai kota pelabuhan yang bukan hanya kuat di sektor industri dan logistik, tetapi juga kaya akan atraksi budaya.

Pawai budaya yang menampilkan ragam kesenian tradisional, ornamen khas Tionghoa, serta partisipasi masyarakat lintas etnis menjadi magnet visual bagi para pengunjung. Pemerintah berharap promosi yang konsisten dan kemasan acara yang semakin atraktif ke depan mampu menjadikan Cap Go Meh Bitung sebagai destinasi unggulan yang diperhitungkan di tingkat nasional maupun internasional.(*)