Oleh: Hesty Sondakh, Jurnalis
Tahun pertama kepemimpinan Hengky Honandar dan Wakil Wali Kota Randito Maringka berjalan dalam dua tempo: hati-hati di awal, lebih berani di penghujung.
Di fase awal, pemerintah kota memilih langkah aman. Fokus diarahkan pada konsolidasi internal dan penataan fiskal. Salah satu keputusan paling signifikan meski kurang populer untuk dijadikan panggung politik, adalah komitmen membayar kewajiban dan utang daerah yang diwarisi sebelumnya.
Langkah ini tidak menghasilkan seremoni. Tidak ada pita yang dipotong. Tetapi secara tata kelola, ini fondasi penting. Menata ulang beban fiskal di tahun pertama menunjukkan pilihan realistis: membereskan ruang keuangan sebelum berlari lebih jauh.
Menariknya, di tengah fokus pelunasan kewajiban tersebut, pertumbuhan ekonomi kota tetap bergerak naik. Aktivitas perdagangan dan sektor perikanan tidak jatuh. Ini memberi pesan bahwa disiplin fiskal tidak serta-merta mengorbankan denyut ekonomi.
Namun publik jarang melihat angka tanpa rasa.
Di luar urusan fiskal, kritik sempat mengarah pada lambannya rolling pejabat. Mesin birokrasi dinilai belum sepenuhnya panas. Isu ketidaksinkronan antara sejumlah kepala SKPD dan Sekda menjadi perbincangan terbuka di kalangan internal.
Kini rolling telah dilakukan. Struktur mulai digeser. Pertanyaannya bukan lagi apakah rotasi terjadi, tetapi apakah reposisi ini berbasis kinerja dan visi, atau sekadar distribusi ulang peran.
Program substantif tetap berjalan. Mikrolet gratis bagi pelajar menjadi simbol keberpihakan pendidikan. Bantuan rumpon untuk nelayan kecil menyentuh ekonomi pesisir. Internet gratis di titik blank spot memberi akses yang lebih merata. Ini kerja konkret yang patut dicatat.
Tetapi kota pelabuhan seperti Bitung membutuhkan akselerasi yang lebih terasa—terutama dalam menarik investasi, memperkuat UMKM, dan memaksimalkan potensi industri perikanan.
Setahun ini memberi gambaran jelas: pemerintah memilih membereskan pondasi fiskal lebih dulu, menjaga stabilitas ekonomi tetap tumbuh, lalu mulai menyentuh penataan struktur birokrasi.
Itu langkah rasional.
Namun tahun kedua akan berbeda.
Publik tidak lagi menilai niat, melainkan hasil.
Jika disiplin fiskal telah dijaga, struktur telah ditata, dan ekonomi menunjukkan tren positif, maka tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan itu terasa di lapisan bawah bukan hanya di laporan statistik.
Karena dalam politik kota, legitimasi tidak lahir dari kehati-hatian semata, tetapi dari keberanian mengubah stabilitas menjadi lompatan.(*)