Di tangan sebagian orang, sampah mungkin hanya berakhir di tempat pembuangan. Namun di Kelurahan Wangurer Utara, Kecamatan Madidir, sampah justru sedang diubah menjadi harapan baru bagi lingkungan dan ekonomi keluarga.
Pagi itu, suasana pelatihan pembuatan kompos yang memasuki hari ke-11 berlangsung berbeda. Di tengah warga yang antusias mengikuti setiap tahapan kegiatan, Ketua Tim Penggerak PKK Kota Bitung, Ny. Ellen Honandar Sondakh, S.E., tidak hanya hadir sebagai tamu kehormatan. Ia memilih turun langsung ke lapangan, memperagakan cara penggunaan kompos pada tanaman polybag yang telah disiapkan peserta.
Sesekali Ellen berdialog dengan warga, menanyakan pengalaman mereka mengelola sampah rumah tangga dan memanfaatkan hasil kompos untuk tanaman di pekarangan rumah.
Bagi Ellen, gerakan pengomposan bukan sekadar program lingkungan yang berhenti pada pelatihan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut merupakan upaya membangun budaya baru di tengah masyarakat, yakni melihat sampah sebagai sumber daya yang memiliki nilai manfaat.

“Kami ingin setiap kelurahan mampu mengelola sampahnya sendiri. Ke depan akan ada lomba antar-kelurahan se-Kota Bitung, sehingga pelatihan ini menjadi bekal penting bagi masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang bersih sekaligus produktif,” ujarnya.
Pesan itu tidak hanya disampaikan melalui kata-kata. Ellen menunjukkan komitmennya dengan membagikan bibit cabai secara simbolis kepada TP PKK kelurahan se-Kecamatan Madidir. Bibit tersebut diharapkan menjadi awal tumbuhnya gerakan ketahanan pangan keluarga yang dimulai dari pekarangan rumah masing-masing.
Bagi Ellen, ketahanan pangan dan pengelolaan lingkungan merupakan dua hal yang saling berkaitan. Kompos yang dihasilkan dari sampah organik dapat digunakan untuk menyuburkan tanaman, sementara hasil tanaman dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarga.
Di lokasi pelatihan, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bitung, Merianty Dumbela, memberikan materi mengenai proses pengolahan sampah organik menjadi kompos yang berkualitas. Mulai dari pemilahan bahan, proses fermentasi, hingga pemanfaatannya untuk berbagai jenis tanaman.
Yang menarik, program ini tidak berhenti pada aspek lingkungan semata. Kompos yang dihasilkan dari rumah pengomposan juga dipasarkan melalui Bank Sampah. Artinya, limbah rumah tangga yang sebelumnya tidak memiliki nilai kini dapat berubah menjadi produk yang bernilai ekonomi.
Manfaat tersebut telah dirasakan langsung oleh warga. Salah seorang peserta dari Kelurahan Wangurer Barat mengaku rutin memanfaatkan sisa makanan dan tulang ikan sebagai bahan kompos untuk tanaman di rumahnya.
“Hasilnya sangat bagus. Cabai, tomat, dan sayuran yang saya tanam tumbuh lebih subur setelah menggunakan kompos dari limbah rumah tangga,” ujarnya dengan penuh semangat.
Cerita sederhana itu menjadi bukti bahwa perubahan besar sering kali berawal dari langkah kecil. Dari sisa makanan yang biasanya dibuang, kini lahir pupuk yang menyuburkan tanaman. Dari tanaman yang tumbuh di pekarangan, muncul harapan untuk membantu kebutuhan keluarga.
Bagi Ellen Honandar Sondakh, inilah esensi sesungguhnya dari pemberdayaan masyarakat. Bukan sekadar memberikan pelatihan, tetapi menumbuhkan kesadaran, keterampilan, dan kemandirian yang dapat terus berkembang di tengah masyarakat.
Melalui gerakan pengomposan yang terus digalakkan TP PKK Kota Bitung bersama Dinas Lingkungan Hidup, Ellen berharap semakin banyak kelurahan yang mampu menjadi lingkungan yang bersih, produktif, dan mandiri.
Sebab dari tumpukan sampah yang dikelola dengan baik, bukan hanya kompos yang dihasilkan. Di sana juga tumbuh kepedulian, ketahanan pangan, dan harapan bagi masa depan masyarakat yang lebih baik.