BITUNG – Pagi yang teduh di Kota Bitung, Senin (4/5/2026), menjadi saksi bagaimana semangat kebangsaan dan harapan masa depan dirajut dalam satu momen. Upacara bendera memperingati Hari Pendidikan Nasional yang dirangkaikan dengan Hari Otonomi Daerah ke-30 berlangsung khidmat, menghadirkan refleksi mendalam tentang arah pembangunan dan pendidikan.
Di hadapan peserta upacara, Wali Kota Bitung, Hengky Honandar, berdiri sebagai pembina, membacakan sambutan Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian serta pidato Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah. Suaranya mengalun tegas, membawa pesan bahwa otonomi daerah bukan sekadar kewenangan administratif, melainkan jalan untuk menghadirkan keadilan pembangunan dan pelayanan publik yang lebih dekat dengan rakyat.
Tema “Dengan Otonomi Daerah Kita Wujudkan Asta Cita” terasa hidup dalam setiap kalimat. Ada dorongan kuat untuk menyatukan langkah—antara pusat dan daerah—agar pembangunan tidak lagi timpang. Dari integrasi perencanaan hingga penguatan kemandirian fiskal, semuanya bermuara pada satu tujuan: kesejahteraan masyarakat.
Namun, pagi itu bukan hanya tentang tata kelola pemerintahan. Dalam pidato pendidikan yang dibacakan, terselip pesan yang lebih menyentuh—bahwa pendidikan adalah tentang memanusiakan manusia. Nilai-nilai ajaran Ki Hajar Dewantara kembali dihidupkan: asah, asih, dan asuh. Sebuah pengingat bahwa di balik angka-angka kebijakan, ada anak-anak yang sedang tumbuh, belajar, dan bermimpi.
Pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning) pun digaungkan, bersama upaya revitalisasi sekolah, peningkatan kualitas guru, hingga perluasan akses pendidikan yang inklusif. Semua ini menjadi harapan baru—bahwa ruang-ruang kelas di Bitung dan seluruh Indonesia akan semakin menjadi tempat lahirnya generasi yang cerdas sekaligus berkarakter.
Di barisan peserta, tampak Wakil Wali Kota Randito Maringka, Ketua TP-PKK Ellen Honandar Sondakh, Sekretaris Daerah, jajaran Forkopimda, hingga para guru dan ASN. Kehadiran mereka bukan sekadar formalitas, tetapi simbol kebersamaan dalam menjaga arah pembangunan.
Upacara itu mungkin berlangsung singkat, namun maknanya menetap lebih lama. Di tengah tantangan zaman, Bitung menegaskan satu hal sederhana namun kuat: masa depan daerah dibangun dari pendidikan yang baik, dan otonomi yang dijalankan dengan hati.