BITUNG — Sekop itu bergerak perlahan, mengaduk campuran sampah organik yang mulai berubah menjadi kompos. Di hadapan puluhan ibu-ibu PKK di Kecamatan Lembeh Utara, Ketua Tim Penggerak PKK Kota Bitung, Ny. Ellen Honandar Sondakh, tak hanya memberi arahan dari balik podium. Ia memilih turun langsung memperlihatkan bagaimana sampah rumah tangga yang selama ini dianggap tak berguna dapat diubah menjadi pupuk yang menyuburkan tanaman.
Kamis (16/7/2026), pelatihan pembuatan kompos yang digagas TP-PKK Kota Bitung bersama Dinas Lingkungan Hidup menjadi penutup rangkaian kegiatan yang telah menjangkau 44 kelurahan di Kota Bitung. Setelah sehari sebelumnya menyelesaikan pelatihan di Kecamatan Lembeh Selatan, giliran 11 kelurahan di Kecamatan Lembeh Utara menerima edukasi serupa.

Bagi Ellen, gerakan ini bukan sekadar mengajarkan cara membuat kompos. Lebih dari itu, ia ingin mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah. Menurutnya, persoalan sampah tak lagi bisa dibebankan sepenuhnya kepada pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan setiap keluarga.
“Persoalan sampah bukan lagi hanya urusan pemerintah. Ini adalah tanggung jawab kita bersama. Perubahan harus dimulai dari rumah, dengan memilah dan mengelola sampah,” ujarnya.
Pesan itu disampaikan di tengah kondisi tempat pembuangan akhir yang kapasitasnya semakin terbatas. Karena itu, Ellen mengajak masyarakat menjadi bagian dari solusi dengan mengolah sampah organik menjadi kompos, sementara sampah anorganik dipilah agar memiliki nilai ekonomi melalui bank sampah.
Pelatihan pun tidak berhenti pada teori. Ellen memperagakan penggunaan kompos pada tanaman, lalu menyerahkan bibit tomat, terong, bayam, seledri, dan rica kepada TP-PKK kecamatan dan kelurahan. Harapannya sederhana, pekarangan rumah menjadi lebih produktif, kebutuhan pangan keluarga terbantu, dan volume sampah yang dibuang ke TPA semakin berkurang.
“Jangan melihat sampah sebagai beban. Sampah yang dipilah dengan benar bisa menjadi sumber penghasilan tambahan bagi keluarga,” katanya.
Di Lembeh Utara, pelatihan itu memang berakhir. Namun bagi Ellen Honandar Sondakh, pekerjaan sesungguhnya baru dimulai. Ia berharap ilmu yang dibawa pulang para peserta tidak berhenti di ruang pelatihan, melainkan tumbuh menjadi kebiasaan baru yang menjadikan rumah tangga sebagai titik awal terciptanya Kota Bitung yang lebih bersih, hijau, dan mandiri.