Bitung — Gema takbir menggema di Lapangan Kantor DPRD Bitung, mengawali pagi penuh kemenangan yang tak hanya sarat ibadah, tetapi juga menyiratkan kuatnya nilai kebersamaan. Ratusan jamaah memadati lokasi untuk menunaikan Sholat Idul Fitri 1447 Hijriah, dalam suasana yang khidmat sekaligus hangat oleh rasa persaudaraan.
Di tengah barisan jamaah, Wakil Wali Kota Bitung, Randito Maringka, tampak hadir dan berbaur tanpa jarak. Kehadirannya bukan sekadar simbol pemerintahan, tetapi menjadi penegasan bahwa momentum hari raya adalah milik bersama—ruang di mana pemimpin dan masyarakat berdiri sejajar dalam rasa syukur yang sama.

Namun, Idul Fitri tahun ini menghadirkan makna yang lebih dalam. Di saat umat Muslim merayakan hari kemenangan, umat Hindu juga menjalani Hari Raya Nyepi. Dua momentum besar yang berlangsung bersamaan ini justru memperlihatkan wajah Bitung sebagai kota yang mampu merawat harmoni di tengah perbedaan.
Dalam sambutannya, Randito menegaskan bahwa nilai Ramadhan tidak boleh berhenti pada ritual semata, melainkan harus menjelma dalam sikap hidup sehari-hari, terutama dalam menjaga toleransi.
“Kebersamaan dalam perbedaan adalah kekuatan kita. Hari ini kita belajar bukan hanya tentang kemenangan pribadi, tetapi juga tentang bagaimana memberi ruang bagi saudara-saudara kita untuk beribadah dengan tenang,” ujarnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk terus menumbuhkan kepedulian dan kedewasaan sosial, terlebih dalam momentum yang sensitif namun penuh makna seperti saat ini. Menurutnya, menjaga ketenangan dan saling menghormati adalah bentuk nyata dari nilai keimanan yang telah ditempa selama Ramadhan.
Di sisi lain, Pemerintah Kota Bitung turut mengingatkan masyarakat yang akan melakukan perjalanan mudik agar tetap mengutamakan keselamatan, mulai dari mematuhi aturan lalu lintas hingga memastikan kondisi fisik dan kendaraan tetap prima.
Khotbah Idul Fitri yang disampaikan oleh Masykur Al-Ma’muni pun menegaskan bahwa kembali ke fitrah bukan hanya soal kesucian diri, tetapi juga kesiapan untuk hidup berdampingan secara damai.
Di tengah perayaan yang bersamaan ini, Bitung seolah memberi pesan sederhana namun kuat: bahwa perbedaan bukan alasan untuk berjarak, melainkan kesempatan untuk saling menjaga. Di sanalah, makna kemenangan menemukan bentuknya yang paling utuh.