MANADO — Tawa anak-anak memenuhi Aula Mapalus Kantor Gubernur di Manado, Rabu (8/4/2026). Di tangan-tangan kecil itu, telur-telur Paskah berubah menjadi karya penuh warna lukisan sederhana yang menyimpan cerita tentang iman, harapan, dan kebersamaan.
Sebanyak dua ribu lebih anak dari berbagai kabupaten dan kota di Sulawesi Utara berkumpul dalam satu ruang, mengikuti kegiatan menghias telur Paskah massal bertajuk “Little Hands Big Joy”. Bukan sekadar lomba, kegiatan ini menjelma menjadi ruang ekspresi, tempat imajinasi anak-anak bertemu nilai-nilai spiritual yang mereka rayakan.
Sejak pagi, mereka datang dengan penuh semangat. Cat warna, kuas kecil, hingga berbagai ornamen sederhana disiapkan. Dengan polos namun penuh kesungguhan, satu per satu anak menuangkan kreativitasnya menghias telur dengan simbol-simbol religius, motif ceria, hingga pesan damai yang mereka pahami dengan cara mereka sendiri.

Di balik riuh dan warna-warni itu, sebuah capaian membanggakan lahir. Kegiatan ini resmi mencatatkan rekor dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI), sebagai salah satu kegiatan menghias telur Paskah massal dengan partisipasi anak-anak terbanyak.
Hadir di tengah anak-anak, Yulius Selvanus tak menyembunyikan rasa bangganya. Ia melihat lebih dari sekadar karya seni melainkan tumbuhnya karakter generasi muda.
“Ini bukan hanya menghias telur Paskah. Ini tentang bagaimana iman, kreativitas, dan kebersamaan bisa tumbuh sejak usia dini,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan seperti ini menjadi bukti bahwa dari hal-hal sederhana, anak-anak mampu menciptakan sesuatu yang bermakna. Pemerintah pun, kata dia, berkomitmen terus membuka ruang kreatif bagi generasi muda.
“Kami ingin anak-anak Sulawesi Utara punya wadah untuk berkembang, baik dalam seni, pendidikan, maupun karakter,” tambahnya.
Di sudut lain ruangan, wajah haru juga terpancar dari Anik Yulius Selvanus yang menjadi ketua panitia kegiatan. Baginya, acara ini bukan hanya tentang rekor, tetapi pengalaman berharga bagi anak-anak.
“Kami ingin mereka merasa menjadi bagian penting dalam perayaan iman mereka. Belajar mengekspresikan nilai-nilai itu dengan cara yang menyenangkan,” katanya.
Ia menegaskan, rekor yang diraih hari itu bukan milik pemerintah atau panitia, melainkan milik seluruh anak-anak Sulawesi Utara yang telah berpartisipasi dengan penuh sukacita.
Di balik pencatatan rekor yang dilakukan secara ketat oleh tim MURI, ada pesan yang lebih dalam: bahwa membangun generasi tidak selalu harus lewat ruang formal, tetapi juga melalui momen kebersamaan yang hangat dan bermakna.
“Little Hands Big Joy” bukan hanya tentang telur yang dihias, tetapi tentang harapan yang sedang dibentuk pelan, sederhana, namun penuh warna di tangan anak-anak Sulawesi Utara.