BITUNG – Dibeberapa kesempatan, saat terjadi masalah dalam pelayanan air bersih, di antara pipa yang terbuka dan tanah yang masih basah, Alfrets Salindeho berdiri bersama tim teknis. Bagi Direktur Utama Perumda Air Duasudara Bitung itu, pekerjaan tidak berhenti di balik meja. Air harus tetap mengalir, dan itu berarti ia harus berada di tempat di mana masalah benar-benar terjadi.
Sejak awal menjabat, Alfrets tidak menutup mata bahwa kondisi perusahaan saat itu jauh dari ideal. Kinerja belum optimal, kepercayaan pelanggan menurun, dan sistem internal membutuhkan pembenahan serius. Ia menyebut Perumda Air Duasudara kala itu sebagai perusahaan yang “sakit” dan harus dipulihkan dari dasar.
“Sejak awal saya masuk, kondisi perusahaan tidak baik. Kami mulai dari bawah membenahi tata kelola, memperbaiki pelayanan, dan membangun kembali kepercayaan pelanggan,” ujar Alfrets.
Perlahan, perubahan itu mulai terlihat. Perusahaan yang sebelumnya dinilai kurang sehat, kini menunjukkan tren positif. Kinerja membaik, jumlah pelanggan meningkat, pelayanan dipercepat, hingga mampu memberikan kontribusi nyata terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Bitung.
Puncaknya, pada Selasa (21/4/2026), Alfrets menerima penghargaan dari BPKP Sulawesi Utara atas capaian kinerja tahun 2024 yang dinilai baik. Pengakuan itu menjadi penanda bahwa pembenahan yang dilakukan tidak sekadar klaim, tetapi terukur.
Namun di tengah capaian tersebut, dinamika lain ikut muncul. Saat perusahaan mulai menunjukkan kondisi sehat, isu pergantian posisi pun mencuat. Alfrets tidak menampik hal itu sebagai bagian dari realitas dalam pengelolaan perusahaan daerah.
“Di saat perusahaan mulai sehat, selalu ada dinamika. Tapi bagi saya ini bukan soal jabatan, ini soal tanggung jawab,” katanya.
Ia menegaskan, selama masih diberikan kepercayaan, fokus utamanya tetap pada pelayanan. Baginya, keberadaan perusahaan daerah tidak boleh jauh dari kebutuhan masyarakat.
“Yang penting bukan siapa yang memimpin, tapi bagaimana perusahaan ini tetap berjalan baik, air tetap mengalir, dan masyarakat terlayani,” ujarnya.
Pendekatan itu tercermin dari gaya kepemimpinannya yang memilih turun langsung ke lapangan. Setiap gangguan distribusi, setiap keluhan pelanggan, menjadi perhatian yang harus ditangani cepat. Tidak sekadar laporan, tetapi tindakan.
Di tengah berbagai tantangan, termasuk tingkat kesadaran pelanggan yang belum sepenuhnya optimal, Alfrets menilai pekerjaan belum selesai. Perbaikan harus terus berjalan, tidak hanya untuk menjaga kinerja, tetapi juga memastikan pelayanan publik tetap menjadi prioritas.
Di Kota Bitung, di antara jaringan pipa yang membentang dan kebutuhan air yang tak pernah berhenti, cerita Perumda Air Duasudara belum usai. Dan bagi Alfrets, selama air masih harus mengalir, pekerjaan itu juga belum boleh berhenti.